Selasa, 20 Juli 2010

BUANG AIR BESAR SEMBARANGAN NOL (BAB-SANO)


Tantangan yang dihadapi Indonesia terkait dengan masalah air minum, higiene dan sanitasi masih sangat besar. Hasil studi Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP) tahun 2006, menunjukkan 47% masyarakat masih berperilaku buang air besar ke sungai, sawah, kolam, kebun dan tempat terbuka.

Studi Basic Human Services (BHS) di Indonesia tahun 2006 terhadap perilaku pengelolaan air minum rumah tangga menunjukan 99,20% merebus air untuk mendapatkan air minum, tetapi 47,50 % dari air tersebut masih mengandung Eschericia coli. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap tingginya angka kejadian diare di Indonesia. Hal ini terlihat dari angka kejadian diare nasional pada tahun 2006 sebesar 423 per seribu penduduk pada semua umur dan 16 provinsi mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) diare dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 2,52.

Kondisi seperti ini dapat dikendalikan melalui intervensi terpadu melalui pendekatan sanitasi total. Hal ini dibuktikan melalui hasil studi WHO tahun 2007, yaitu kejadian diare menurun 32% dengan meningkatkan akses masyarakat terhadap sanitasi dasar, 45% dengan perilaku mencuci tangan pakai sabun, dan 39% perilaku pengelolaan air minum yang aman di rumah tangga. Sedangkan dengan mengintegrasikan ketiga perilaku intervensi tersebut, kejadian diare menurun sebesar 94%.

Pemerintah telah memberikan perhatian di bidang hygiene dan sanitasi dengan menetapkan Open Defecation Free / buang air besar sembarangan nol (BASA NO) dan peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat pada tahun 2009 dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004 - 2009. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mencapai target Millennium Development Goals (MDGs) tahun 2015, yaitu meningkatkan akses air minum dan sanitasi dasar secara berkesinambungan kepada separuh dari proporsi penduduk yang belum mendapatkan akses.

Untuk mempercepat salah satu pencapaian target MDGs tahun 2015 dibuatlah kebijakan nasional yaitu sanitasi total berbasis masyarakat (STBM). STBM adalah pendekatan untuk merubah perilaku hygiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. Ada 5 (lima) komponen STBM. Kelima komponen STBM yang dimaksud adalah; tidak buang air besar sembarangan (BASA NO); mencuci tangan pakai sabun; mengelola air minum dan makanan yang aman; mengelola sampah dengan benar; dan mengelola limbah cair rumah tangga dengan aman.

Kabupaten Lombok Tengah telah menerapkan sanitasi total berbasis masyarakat (STBM). Dua dari 5 (lima) komponen STBM yang menjadi prioritas yaitu cuci tangan pakai sabun dan open defecation free (ODF) / buang air besar semabarangan nol (BASA NO). Pada tahun 2009 telah dilakukan pemicuan STBM sebanyak 27 lokasi (desa) di 5 kecamatan yang mencakup 10 puskesmas. Hasil dari pemicuan tersebut berdampak terhadap peningkatan jumlah sarana sanitasi yaitu sebanyak 246 Jamban dari 19.310 jamban yang ada sebelum dilakukan pemicuan. Selain itu terjadi perubahan perilaku dari kebiasaan BAB disembarang tempat menjadi BAB di jamban. Hal ini dapat terlihat dari data akses masyarakat terhadap sarana sanitasi setelah pemicuan yaitu terjadi peningkatan sebanyak 338 KK dari 25.550 KK yang sudah akses sebelumnya.

Desa Sukaraje dan Gemel mendapat predikat desa BASA NO (buang air besar sembarangan nol) / ODF (open defecation free). Kriteria BASA NO diberikan pada 2 desa tersebut karena setiap individu / penduduk dan komunitas desa tersebut mempunyai akses terhadap sarana sanitasi dasar sehingga dapat mewujudkan komunitas yang bebas dari buang air disembarang tempat. Predikat BASA NO diperoleh karena partisipasi masyarakat yang begitu tinggi dalam meningkatkan ketersedian sarana sanitasi secara mandiri. Dengan BASA NO dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, produktifitas dan kualitas hidup masyarakat sehingga mampu menurunkan penyakit berbasis lingkungan (Promkes Loteng).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar